MODUL AJAR SISTEM REM SEPEDA MOTOR

 

SISTEM REM

A.        Tujuan

Setelah mengikuti menyelesaikan materi sistem rem ini, peserta diharapkan dapat:

1.        Membedakan konstruksi jenis jenis sistem rem

2.        Mendiagnosis kerusakan rem mekanik, hidrolik dan ABS

3.        Memperbaiki kerusakan sistem rem

 

B.        Indikator Pencapaian Kompetensi

 

1.    Mampu menelaah konstruksi sistem rem konvensional (mekanis &hidrolis) serta rem ABS

2.    Mampu mendiagnosis kerusakan rem konvensional (rem mekanik dan hidrolik) serta rem ABS

3.    Mampu memperbaiki kerusakansistem rem konvensional (remmekanik dan hidrolik) serta rem ABS

C.        Uraian Materi

 

Pembahasan materisistem rem dalam modul ini terdiri dari :

1.          Rem tromol mekanis ( mechanical drum brakes)

2.          Sepatu rem

3.          Canvas rem

4.          Rem cakram (disc brake)

5.          Silinder master

6.          Disc brake (piringan cakram)

7.          Brake pad/disc pad

8.          Pipa/slang rem

9.          Caliper & minyak rem serta pemeriksaan dan perawatan sistem rem sepeda motor.


 

Sistem Rem

Sistem rem sepeda motor dirancang untuk mengontrol kecepatan/laju (mengurangi/memperlambat kecepatan dan menghentikan laju) sepeda motor,dengan tujuan meningkatkan keselamatan dan untuk memperoleh pengendaraanyang aman.Prinsip kerja rem adalah dengan mengubah energi gerak/kinetik menjadi energi panas dalam bentuk gesekan.

Pembagian tipe rem pada sepeda motor menurut konstruksinya :

1).  rem tromol ( drum brake), dan 2). rem cakram (disc brake).

 

1.     Rem tromol mekanis ( mechanical drum brakes)

Pada rem tromol, kekuatan tenaga pengereman diperoleh dari sepatu rem yang diam menekan permukaan tromol yang berputar besama dengan roda.Rem tromol mempunyai keuntungan dibandingkan dengan tipe rem cakram, yaituadanya self energizing effect yang memperkuat daya pengereman, hanya sajakonstruksinya agak rumit dan tertutup sehingga radiasi panas ke udara luar danwater recovery kurang baik. Water recovery merupakan kemampuan bidang gesek (sepatu rem/pad) untukmengembalikan koefisien gesek pada kondisi semula pada saat sistem remterkena air yang mengakibatkan koefisien gesek sepatu rem/ pad menjadiberkurang karena terlumasi oleh air. Pada saat sistem rem terkena air, tipe remcakram memiliki kemampuan.

 

Gambar 36. Drum Brake & Disc Brake

Water recovery yang lebih baik dibandingkan dengan sistem rem tromol, hal ini disebabkan karena air akan terlempar keluar dari permukaan cakram dan pad karena adanya gaya sentrifugal. Pada rem tromol tetap akan menyisakan air di antara sepatu rem dan tromol sehingga koefisien gesek rem menjadi rendah.


 

Konstruksi rem tromol umumnya terdiri dari komponen-komponen seperti: sepatu rem (brake shoe), tromol (drum), pegas pengembali (return springs), tuas penggerak (lever), dudukan rem tromol (backplate), dan cam/nok penggerak. Cara pengoperasian rem tromol pada umumnya secara mekanik yang terdiri daripedal rem (brake pedal) dan batang (rod) penggerak.

 

 

 

Gambar 37. Komponen Rem Tromol

Komponen rem tromol:

 

 

1.  Brake shoes

2.  Return spring

3.  Backing plate

4.  Operating cam

5.  Washer

6.  Seal

7.  Operating lever

8.  Pinch bolt

 

Rem tromol terbuat dari besi tuang dan digabung dengan hub saat rem digunakan sehingga panas gesekan akan timbul dan gaya gesek dari brake liningdikurangi. Drum brake mempunyai sepatu rem (dengan lining) yang berputarberlawanan dengan putaran drum (wheel hub) untuk mengerem roda dengangesekan. Pada sistem ini terjadi gesekan-gesekan sepatu rem dengan tromolyang akan memberikan hasil energi panas sehingga bisa menghentikan putarantromol tersebut. Rem jenis tromol disebut internal expansion lining brake”.Permukaan luar dari hub tersedia dengan sirip-sirip pendingin yang terbuat darialuminium–alloy (paduan aluminium) yang memiliki daya penyalur panas yangsangat baik. Bagian dalam tromol akan tetap terjaga bebas dari air dandebu kerena tromol mempunyai alur untuk


menahan air dan debu yang masuk dengan cara mengalirkannya lewat alur dan keluar dari lubang aliran. Berdasarkan cara pengoperasian sepatu rem, sistem rem tipe tromol pada sepeda motor diklasifikaskan menjadi dua, yaitu :

a)   Single Leading Shoe Type

Tipe ini digunakan pada semua jenis sepeda motor kecil (di bawah 250 cc). Pada sistem rem tromol single leading shoe type, digunakan dua sepatu rem. Sepatu rem yang terbawa oleh putaran tromol dan cenderung melengketdisebut sebagai leading shoe, sedangkan sepatu rem yang terdorong kedalam oleh putaran tromol disebut trailing shoe. Leading shoe menghasilkandaya pengeremen yang lebih besar dibandingkan dengan trailing shoesebagai akibat adanya self energizing effect yang diperoleh karena leadingshoe terbawa oleh putaran tromol. Hal ini akan menyebabkan keausan padaleading shoe lebih besar dibanding keausan pada trailing shoe.

 

Cara kerja rem tipe single leading shoe

 

 

Gambar 38. Rem Kondisi belum Bekerja

Kondisi belum bekerja

ketika pedal rem belum di injak, tuas rem tidak bergerak memutar brake cam maka tidak ada gaya putar pada brake cam (bubungan rem) sehingga sepatu rem tidak bergerak (mengembang), tidak ada gesekan antara tromol dan kanvas rem (brake lining) sehingga tidak terjadi pengereman.

 

Gambar No 39. Rem Kondisi Bekerja

 

Kondisi bekerja : ketika pedal rem di injak, tuas rem bergerak memutar brake cam maka ada gaya putar pada brake cam (bubungan rem) sehingga sepatu rem bergerak (mengembang), terdapat gesekan antara tromol dan kanvas rem (brake lining) sehingga terjadi pengereman


Kelebihan rem tipe single leading shoe:

1.     Konstruksi sederhana

2.      Jumlah komponan sedikit (wheel cylinder dan return spring: 1 buah.)

Kekurangan rem tipe single leading shoe:

1.   Keausan kampas rem depan (leading) lebih banyak dari pada kampasrem belakang (trailing), karena adanya self energizing effect.

2.   Kausan kampas rem masing-masing tidak simetris (bagian atas lebihbanyak dari pada bagian bawah)

3.   Pengereman kurang pakem.

 

Perhitungan rem tromol single leading

 

 

Gambar 40. Rem Tromol Single Leading

 

Gaya rem = Gaya reaksi frem = N x μ

F = Gaya pada sepatu rem N = gaya reaksi

f = Gaya gesek μ = Nilai gesek


 

Tromol putar maju

 

Sepatu primer :

Σ MA = 0

F.a + f.c N .b = 0

F.a + N. μ.c N.b =0

F.a + N .( μ.c b ) = 0

N = [    𝐹.𝑎     ]

(𝜇.𝑐𝑏)

 

Sepatu sekunder : ΣMB = 0

- F.a + f.c + n.b = 0

- F.a + N . c + N .b

N = [    𝐹.𝑎     ]

(𝜇.𝑐+𝑏)

 

Contoh Soal

Suatu kendaraan dilengkapi rem tromol model single leading dan secara mendadak direm sampai mobil berhenti, hitunglah gaya reaksi yang bekerja padasepatu rem I, bila diketahui :



 


Jawab:

N Primer = [     𝐹.𝑎

(𝜇.𝑐𝑏)


 

] = [     900. 170

(0,38 . 25−80)


 

] = 153000

−70,5


 

 

= 2170,2 N


 

 

N Sekunder = [      𝐹.𝑎    ] = [    900 .170  ]=153000 = 1709,5 N


(𝜇.𝑐+𝑏)


(0,38 .25+80)


89,5


 

 

Double Leading Shoe Type

Tipe ini digunakan pada motor-motor besar (tipe lama) dan sekarang sudah jarang digunakan. Tipe ini juga menggunakan dua sepatu rem seperti pada single leading shoe type, akan tetapi pada double leading shoe type digunakan dua bubungan rem (brake cam), sehingga kedua sepatu rem menjadileading dan menghasilkan daya pengereman yang besar karena kedua sepatu rem menghasilkan self energizing effect(gaya penguatan sendiri) yang memperkuat daya pengereman.

 

Gambar41. Rem Tromol Double Leading

Rem tromol tipe twoleading shoe dapatmenghasilkan gaya pengereman kira-kira satu setengah kali single leading shoe.Terutama digunakan sebagai rem depan, tetapi baru- baru ini digantikan oleh disk brak(rem cakram).

 

Kelebihan rem tipe double leading shoe:

1.     Keausan kampas rem depan dan belakang simetris.

2.      Pengereman agak lebih pakem

Kekurangan rem tipe double leading shoe:

1.     Keausan kampas rem bagian atas tidak sama dengan bagian bawah.

2.      Komponen lebih banyak (Wheel cylinder 2 buah dan compression spring

2 buah).


 

 

Self energizing effect (gaya penguatan sendiri)

Seperti yang telah dibahas, saat pengemudi menginjak rem, tekanan ditularkan dari master silinder ke silinder roda. Tekanan ini mendorong piston silinder ke luar.Hal ini, pada gilirannya, menjalar pada sepatu rem dan membawa kampas rem bergesekan dengan tromol.

Pertama-tama, lapisan rem tidak hanya mendorong melawan tromol dan menahan seperti yang mereka lakukan ketika kendaraan diam. Gesekan antaratromol yang bergerak dan kampas rem akan mendorong sepatu rem ke arahrotasi seperti yang ditunjukkan. Fenomena ini akan mengakibatkan:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sepatu primer         Sepatu sekunder (leading)                  (trailing)

 

Gambar42. Self Energizing Effect

a.   Ketika pedal rem diinjak, maka silinder roda mendorong sepatu primer berputar searah putaran tromol seperti pada gambar.

b.   Hal yang sama terjadi pada sepatu sekunder. Tapi dalam kasus ini, sepatu sekunder berhenti lebih cepat karena gaya rem sepatu sekunder melawan anchor pin.

 

1.     Ketika sepatu sekunder berhenti melawan anchor pin, maka sepatu tidak dapat memutar lebih jauh meskipun kekuatan dorong dari silinder roda masih berlaku.

2.     Kekuatan dorong ini menciptakan kekuatan yang mendorong poros sepaturem bergerak ke arah luar, menciptakan peningkatan tekanan


 

yang lebih besar terhadap tromol. Hal ini disebut "self-energizing effect" atau gaya penguatan sendiri. Saat sepatu sekunder terdorong keluar, maka ujungkanvas rem akan menekan semakin kuat terhadap tromol, sehinggakomponen rem tidak dapat bergerak lebih jauh.

3.    Dalam proses ini, sepatu primer memiliki kekuatan lebih besar daripada sepatu primer. Kedua sepatu rem memberikan gaya dari silinder roda dan kedua sepatu berputar karena rotasi tromol. Tapi sepatu primer mendapat kekuatan tambahan dari gaya reaksi yang memiliki arah sama dengan arahputaran tromol. Dengan demikian, sepatu primer bekerja lebih banyak daripada sepatu sekunder.Sehingga kanvas sepatu primer lebih cepat ausdaripada kanvas sepatu sekunder. Untuk mengatasi hal ini, maka pada remtromol jenis leading trailing menggunakan:

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar44. Kanvas Rem

b.Kanvas rem pada sisi primer dibuat lebih tebal dan lebih keras.

 

 

 

Sepatu Rem

Disain sepatu rem yang paling terkenal untuk sistem rem yang lebih kecil, adalah sepatu rem siap pakai yang dibuat dari baja.Pada sistem rem yang lebih besar, campuran besi tuang,campuran aluminium, atau sepatu rem yang terbuat dari campuran besi lunak,banyak digunakan akir-akhir ini.

 

 

 

Gambar45. Sepatu Rem

 

Sepatu rem terdiri dari sebuah meja dan pelapis sepatu (shoe web).

Lapisan atau kampas rem (brake lining) dipasang pada meja sepatu rem dengan cara pengeleman atau kelingan. Lapisan sepatu menahan meja dan pegas pengembali sepatu (shoe returnspring).

 

Satu ujung sepatu rem duduk pada lubang jangkar (anchor bore) atau tempat dudukan jangkar (anchor rest path). Sedangkan ujung sepatu rem yang lain adalah duduk pada salah satu ujung piston wheel cylinder. Tergantung pada susunan sepatu rem, apakah dalam posisi leading (primer) atau dalam posisi trailing (sekunder).


 

Kanvas Rem

Kampas rem terbuat dari bahan campuran asbes atau fiber glass, resin sintetis,bahan yang tahan terhadap gesekan dan bahan yang dapat menyerap panas.Campuran dibuat dalam cetakan dalam bentuk dan ukuran kampas rem yangdirencanakan lalu dikeringkan pada suhu dan tekanan yang tinggi. Jenis kampas rem ini dirancang untuk menahan tekanan dan temperatur yangtinggi saat rem bekerja. Untuk maksud ini, kampas rem harus mampu menyalurkan panas pada sepatu rem. Beberapa fiber glass yang dipakai sebagaibahan kampas rem adalah pengantar panas yang baik, sehingga untukmengimbangi hal ini, partikel-partikel yang halus seperti seng (zinc), dapatdimasukkan dalam bahan kampas rem tersebut. Partikel-partikel logam adalahpenghantar panas yang baik dan dengan demikian membantu untukmemindahkan panas dari permukaan kampas rem ke permukaan komponen yang lain.

Pemasangan kampas rem pada sepatu rem dilakukan dengan dua cara, yaitu:

Kampas rem dipasang dengan perekat (bonded lining)

 

 

Gambar 46. Kampas Rem dengan Perekat

Kampas-kampas rem ini disatukan (dipasangkan) pada sepatu rem dengan perekat (adhesive) yang dikeringkan dengan panas.

Selama proses perekatan, bagian belakang kampas rem dan meja dari permukaan sepatu rem dilapisi dengan suatu perekat khusus.

 

Kampas rem dan sepatunya diklem [dijepit] bersama dan ditempatkan dalam sebuah  oven  untuk  pemanasan  dan  perekatan.Setelah  pemindahan  dan


 

pendinginan, lapisan diratakan setengah lingkaran agar sesuai dengan bentuk tromol rem

Kampas rem dipasang dengan kelingan (riveted lining)

 

 

Gambar 47.Kampas Rem dengan Kelingan

 

Kampas jenis ini disatukan dengan sepatu rem dengan sejumlah paku keling. Selama proses pemasangan menggunakan paku keling (rivet) agar kampas rem dan sepatu rem terjepit bersama.

 

Rem cakram (disc brake)

Konstruksi rem cakram pada umumnya terdiri atas cakram (disc rotor) yang terbuat dari besi tuang yang berputar dengan roda, bahan gesek (disc pad) yang menjepit dan mencengkeram cakram, serta kaliper rem yang berfungsi untuk menekan dan mendorong bahan gesek sehingga diperoleh daya pengereman. Daya pengereman dihasilkan oleh adanya gesekan antara kanvas rem dan cakram.Self energizing effect yang terjadi pada rem cakram sangat kecil, sehinggadiperlukan tekanan pengereman yang lebih besar untuk mendapatkan dayapengereman yang efisien dan pad cenderung lebih cepat aus dibanding dengan sepatu rem pada rem tromol. Menurut mekanisme penggeraknya, remcakram sepeda motor dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :

1.     Rem cakram penggerak mekanik,

2.     Rem cakram penggerak hidrolik.

 

Rem cakram penggerak mekanik,

Rem jenis ini bekerja menggunakan kabel. (cth. : pada sepeda motor


 

Honda GL100). Konstruksi sistem rem cakram penggerak mekanis dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Cara kerja rem cakram penggerak mekanik :

 

 

(1)  Kabel rem akan menarik tuas rem ( brake arm) ke atas.

(2)  Pergerakan/perputaran tuas rem mendorong thrust plate guide” ke depan sehingga pad A menempel ke atas cakram.

(3)  Badan rumah rem (caliper body) berengsel sehingga dapat berputar bebas dalam arah mendatar di antara

batas-batas yang ditentukan oleh letak titik kontak pad A dan pad B dengan cakram. Oleh karena itu, bila pad A maju menempel ke atas cakram, sebagai reaksinya rumah rem dan pad B akan tertarik maju sampai pad B menyentuh cakram.

Akibatnya cakram yang berputar itu “dijepit” oleh pad A dan pad B.

(4)  Gesekan antara pad A dan pad B pada cakram akan memberikan tahanan gesek yang melawan perputaran cakram.

Gambar48. Rem Cakram


 

Rem cakram penggerak hidrolik

Rem cakram penggerak hidrolik banyak digunakan pada sepeda motor pada umumnya. Mekanisme penggerak sistem rem tipe hidrolik memanfaatkan tenaga hidrolik (fluida/cairan) untuk meneruskan tenaga pengereman dari pedal/handel rem ke sepatu rem/ pad rem.

Mekanisme penggerak hidrolik berpedoman kepada hukum Pascal : bila suatu fluida/cairan dalam ruang tertutup diberi tekanan maka tekanan tersebutakan diteruskan ke semua arah dengan sama rata. Gaya penekanan pada pedal/handel rem akan diubah menjadi tekanan fluida oleh piston master silinder, kemudian diteruskan ke silinder roda/kaliper rem melalui slang rem untuk menghasilkan gaya pengereman.


 

Gambar49. Rem Cakram Penggerak Hidrolis


 

 

Rem penggerak hidrolik mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan penggerak mekanik, yaitu:

 

1.     Fluida mempunyai sifat tidak dapat dimampatkan, dan pada sistem remhidrolik tidak terjadi kerugian gesekan/penurunan tekanan karenasambungan atau engsel seperti halnya pada mekanisme penggerak remmekanik sehingga rem lebih responsif.

2.     Gaya pengereman yang diperlukan untuk mengoperasikan rem relativeringan.

3.     Bebas penyetelan, meskipun celah antara kampas rem dan disc brakeakan selalu berubah, namun mekanisme rem cakram memungkinkanterjadinya penyetelan secara otomatis.

4.     Panas akan hilang dengan cepat dan memiliki sedikit kecendrunganmenghilang pada saat disk dibuka. Sehingga pengaruh rem yang stabildapat terjamin.

5.     Tidak akan ada kekuatan tersendiri seperti rem sepatu yang utama padasaat dua buah rem cakram digunakan, tidak akan ada perbedaan gaya pengereman pada kedua sisi kanan dan kiri dari rem. Sehingga sepeda motor tidak mengalami kesulitan untuk tertarik kesatu sisi.

6.     Jika rem basah, maka air tersebut akan akan dipercikkan keluar dengangaya Sentrifugal.


 

Komponen-komponen rem cakram penggerak hidrolis :

 

 

Gambar 50. Komponen Rem Cakram

Silinder master berfungsi mengubah gerak pedal/tuas rem ke

dalam tekanan hidrolis. Komponen silinder master:

1.  Tutup reservoir

2.  Plat diafragma

3.  Diafragma karet

4.  Protektor

5.  Klem

6.  Saklar lampu rem

7.  Tuas rem

8.  Lever pivot bolt

9.    Pivot bolt locknut

10.  Dust boot

11.  Circlip

12.  Piston assembly

13.  Pegas

14.  Rubber boot

15.  Sealing washer

16.  Banyo bolt


 

Cara kerja silinder master

 

 

Gambar 51. Silinder Master Kondisi Diam

 

Ketika rem tidak digunakan.

Piston cup dari piston No.1 dan No.2 berada pada inlet port dan compensating port, dan memberikan ruang antara master cylinder dan tangkireservoir. Piston No.2 didorong ke kanan oleh tenagadari pegas pendorong No.2, tetapi ditahan supaya tidak terlalu jauh oleh stopper bolt.


 

 

 

 

Gambar52. Silinder Master Kondisi Bekerja

 

Ketika pedal rem ditekan

Piston No. 1 bergerak ke kiri dan piston cup menyegel compensating port untuk menutup saluran antara silinder dan tangki reservoir. Saat piston didorong lebih jauh, tekanan hidrolis di dalam master cylinder naik.

Tekanan ini ditujukan untuk wheel cylinder belakang. Karena tekanan hidrolis yang sama juga mendorong piston No. 2, piston No. 2 bekerja dengan cara yang sama seperti piston No. 1, dan berfungsi pada wheel cylinder depan.


 

 

 

 

 

Gambar53. Silinder Master Kondisi Pedal Rem Dilepas

 

Bila pedal rem dilepas.

 

Piston dikembalikan ke posisinya semula oleh tekanan hidrolis dan tenaga pegas pembalik. Namun, karena cairan rem tidak langsung kem bali dari wheel cylinder, tekanan hidrolis di dalam master cylinder untuk sementara turun (terbentuk hampa udara). Sebagai akibatnya, cairan rem di dalam tangki reservoir mengalir ke master cylinder melalui port pintu masuk, melalui banyak lubang yang ada pada ujung piston, dan disekitar garis keliling dari piston cup. Setelah piston kembali ke posisinya semula, cairan rem yang secara bertahap kembali dari wheel cylinder ke master cylinder mengalir ke tangki reservoir melalui compensating port. Compensating port juga menyerap perubahan pada volume cairan rem yang dapat terjadi di dalam silinder akibat perubahan temperatur. Ini menjaga agar tekanan hidrolis tidak naik saat rem tidak digunakan.


 

Disc brake (piringan cakram)

 

 

Gambar 54. Disc Brake

Piringan rem (cakram), pada umumnya dibuat dari besi tuang yang diberikan lubang pada permukaan geseknya untuk ventilasi dan menampung kotoran/debu yang menempel pada permukaan cakram maupun pada brake pad.

 

Brake pad/disc pad

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 55. Brake Pad

Brake pad/disc pad, terbuat dari campuran metallic fiber dan sedikit serbuk besi (biasa disebut semi metallic disc pad).

Pada beberapa pad, penggunaan metallic plate (anti-sequel shim) dipasangkan pada sisi piston dari pad untuk mencegah bunyi pada saat pengereman.


 

Pipa/slang rem

 

 

 

 

Pipa/slang rem, merupakan saluran yang berfungsi menyalurkan tekanan hydraulic fluida dari master silinder ke caliper

 

Gambar 56. Pipa/Slang Rem

 

Caliper

 

 

 

Gambar57. Caliper

 

Caliper, sering disebut cylinder body, berfungsi untuk memegang piston-piston dan dilengkapi dengan saluran minyak rem.

 

Minyak rem, merupakan fluida yang berfungsi sebagai media penerus gaya pengereman dalam bentuk tekanan hidrolis ( hydraulic pressure) ke brake piston pada caliper. Minyak rem adalah cairan yang tidak mengandung minyak bumi, sebagian besar terdiri dari alkohol dan susunan kimia dan ester. Persyaratan kualitas yang diperlukan pada minyak rem antara lain :

1.     Titik didih yang tinggi, agar tidak mudah mendidih oleh temperatur yang tinggi akibat proses kerja pengereman. Minyak rem yang mendidih akan menyebabkan berkurangnya gaya pengereman


 

karena timbul gelembung-gelembung udara di dalam saluran minyak rem ( vapour lock).

2.      Kemampuan mencegah karat pada logam dan karet. Kerapatan akan berkurang bila minyak rem merusak seal, dan ini akan menyebabkan kebocoran yang berdampak hilangnya tenaga hidrolis. Minyak rem dibuat dari bahan sintetis dengan maksud agar tidak merusak karet, dan menghindari karat pada logam.

3.      Viskositas. minyak rem harus memiliki kekentalan ( viscosity) tertentu untuk meneruskan tekanan dengan perubahan temperatur yang bervariasi. Minyak rem mempunyai 4 klasifikasi FMVSS (Federal Motor Vehicle Safety Standard). Klasifikasi ini berdasarkan titik didih minyak rem tersebut, dinyatakan oleh DOT (Department Of Transportation). Semakin tinggi nilai DOT, titik didih minyak rem tersebut semakin tinggi (atau dengan kata lain kualitasnya juga semakin tinggi).

Hal-hal yang wajib diperhatikan dalam melakukan penanganan minyak rem

:

1.     Jangan     mencampur     minyak    rem    yang    memiliki   kemampuan berbeda,

2.      Jangan sampai minyak rem tercemar dengan air atau minyak lain yang tidak sejenis,

3.      Menyimpan minyak rem yang tidak digunakan di dalam tempat kemasan yang tertutup rapat. Kesalahan penanganan minyak rem akan menyebabkan komposisinya berubah, menurunkan titik didih maupun mengotori/mencemari minyak rem sehingga kualitasnya menurun.

Brake piston : Sebuah besi bulat yang memanjang dan menekan brake pad

ketika cairan hidrolik diterima dari silinder master.


 

Cara kerja rem cakram penggerak hidrolik :

 

Gambar 58. Rem Cakram Sebelum Bekerja

 

 

 

 

Sebelum bekerja :

Tekanan minyak rem = 0

Pad tidak menyentuh piringan

Gambar 59. Rem Cakram Mulai Bekerja

 

Mulai bekerja :

Tekanan minyak rem bertambah Pad menyentuh piringan dengan ringan

Gesekan kecil

Tenaga pengereman kecil

 

Gambar 60. Rem Cakram Saat Bekerja

 

Pada saat bekerja : Tekanan minyak rem besar Tekanan pad pada disk besar Gesekan : besar

Gaya pengereman : besar


 

Gambar 61. Rem Cakram Saat Bebas Pengereman

 

Bebas pengereman :

Tekanan minyak rem = 0

Pad kembali pada posisi semula Gaya pengeremen = 0

 

TROUBLESHOOTING

A.       Handel rem terasa kenyal

1.   Ada udara palsu di dalam sistem hidraulik

2.   Ada kebocoran pada sistem hidraulik

3.   Kanvas rem/cakram rem kotor

4.   Sil piston caliper aus

5.   Mangkuk-mangkuk piston silinder utama aus

6.   Kanvas rem/cakram rem aus

7.   Caliper kotor

8.   Caliper tidak bergeser dengan baik

9.   Tinggi permukaan minyak terlalu rendah

10.        Saluran minyak rem tersumbat

11.        Cakram rem bengkok/berubah bentuk

12.        Piston caliper menyangkut/aus

13.        Piston silinder utama menyangkut/aus

14.        Silinder utama kotor

15.        Handel rem bengkok

B.        Handel rem terasa keras

1.   Piston caliper menyangkut/aus

2.   Caliper tidak bergeser dengan bai

3.   Saluran minyak rem tersumbat/tertahan


 

4.   Piston silinder utama menyangkut/aus

5.   Handel rem bengkok

C.       Rem menyangkut

1.   Kanvas rem/cakram rem kotor

2.   Roda tidak terpasang dengan tepat

3.   Kanvas rem/cakram rem aus berlebihan

4.   Cakram rem bengkok/berubah bentuk

5.   Caliper tidak bergeser dengan benar

6.   Saluran minyak rem tersumbat

7.   Piston caliper tertahan

 

Pemeriksaan, dan Perawatan Sistem Rem Sepeda Motor Penggantian minyak rem/ pembuangan udara palsu

 

Gambar 62. Mengeluarkan Minyak Rem dari Kendaraan

Mengeluarkan minyak rem

Letakkan sepeda motor pada standar tengah. Sebelum membuka tutup kotak minyak rem, putar stang kemudian sehingga kotak minyak rem sejajar dengan permukaan tanah. Lepaskan sekrup-sekrup, tutup kotak, plat dan membran. Sambungkan slang pembuangan ke katup pembuangan.

Longgarkan katup pembuangan caliper dan pompalah handel rem sampai minyak rem tidak mengalir keluar lagi dari katup pembuangan. Tutup katup pembuangan.

 

 


 

Gambar 63. Melonggarkan katup pembuangan

Longgarkan katup pembuangan caliper dan pompalah handel rem sampai minyak rem tidak mengalir keluar lagi dari katup pembuangan. Tutup katup pembuangan.

Text Box: Pengisian minyak rem/pembuangan udara palsu
Isi kotak minyak rem dengan minyak rem DOT 4 sampai ke tanda batas permukaan teratas.
PERHATIAN !
Jangan mencampur bermacam-macam merek minyak rem karena tidak cocok satu sama lainnya.

 

Gambar 64. Memasang Alat Brake Bleeder ke Katup Pembuangan

 

Hubungkan alat brake bleeder kekatup pembuangan, pompalah handel

alat brake bleeder dan longgarkan katup pembuangan. Tambahkan minyak rem ketika tinggi permukaan minyak rem di dalam silinder utama turun.


 

Gambar 65. Menutup Katup Pembuangan

Tutup katup pembuangan dan mainkan handel rem. Jika terasa lunak, buang lagi udara palsu.

Jika alat brake bleeder tidak tersedia, lakukan pembuangan udara palsu dengan cara berikut: Naikkan tekanan sistem dengan handel rem sampai tidak ada lagi gelembung-gelembung udara di dalam minyak rem yang mengalir keluar dari lubang kecil di dalam kotak minyak rem dan terasa ada tahanan pada handel

rem.

 

Sambungkan slang pembuangan pada katup pembuangan dan buang udara palsu sebagai berikut:

1.   Tarik dan tahan handel rem, kemudian buka katup pembuangan sebanyak ½ putaran dan tutuplah katup kembali.

2.   Lepaskan handel rem perlahan-lahan dan setelah mencapai ujung pergerakannya tunggu beberapa detik.

Ulangi langkah 1 dan 2 sampai tidak ada lagi gelembung-gelembung udara yang muncul pada slang pembuangan. Kencangkan katup pembuangan.

Torsi : 0,6 Kg.m


 

Kanvas Rem/Cakram Rem

 

Gambar 66.Melepas Caliper dari Garpu Depan

a.  Lepaskan penutup pin kanvas (pad pin plug) dari caliper.

b.  Longgarkan pin kanvas rem.

c.  Lepaskan baut-baut pemasangan caliper dan lepaskan caliper dari garpu depan.

Gambar 67. Menekan Piston Caliper

a.  Tekan piston caliper penuh ke dalam untuk memperoleh ruangan untuk pemasangan kanvas rem yang baru.

b.  Periksa tinggi permukaan minyak rem dalam kotak minyak rem sebab tindakan di atas menyebabkan

permukaan minyak rem naik.

Gambar 68. Melepas Pin Kanvas Rem

a.  Lepaskan pin kanvas rem sambil menekan kanvas rem terhadap pegas kanvas rem.

b.  Lepaskan kanvas rem.


 

Gambar 69. Perhatikan Pegas Kanvas Rem

Pastikan bahwa pegas kanvas rem dipasang pada posisi seperti tampak pada gambar.

Gambar 70. Pasang Kanvas Rem & Pin

a)  Pasang kanvas rem baru.

b)  Pasang pin kanvas rem sambil menekan kanvas rem terhadap pegas kanvas rem.

Gambar 71. Memasang Caliper pada Garpu

a)  Pasang caliper pada garpu sehingga posisi cakram rem berada di antara kanvas rem, hati-hati jangan sampai merusak kanvas rem. Kencangkan baut-baut pemasangan caliper

(Torsi : 2,7 kg.m)

b)  Kencangkan pin kanvas rem (Torsi : 1,8 kg.m)

c)  Pasang penutup pin kanvas dan kencangkan (Torsi : 0,3

kg.m)


 

Penggantian kampas rem

 

Permukaan gesek brake pad yang kotor karena debu atau terlihat mengkilap dapat dipergunakan kembali setelah dibersihkan dengan cara diamplas. Jangan menggunakan tekanan udara ataupun sikat kering untuk membersihkan rem, karena debu rem mengandung partikel-partikel yang berbahaya bagi kesehatan.

Brake pad wajib diganti apabila:

1.     Ketebalan kurang dari batas service yang diijinkan.

2.      Permukaan gesek brake pad terkena gemuk/oli pelumas.

 

Pemeriksaan cakram rem

 

 

 

Gambar 72. Pemeriksaan Cakram

Periksa cakram terhadap adanya kerusakan atau keretakan secara visual. Ukur ketebalan cakram rem pada beberapa titik.

Batas Servis : 3,5 mm Batas Servis Honda Revo: 3,5 mm

 

 

 

Gambar 73. Pemeriksaan Keolengan

Periksa keolengan cakram dengan terlebih dahulu memastikan bahwa bearing roda normal. Apabila keolengan cakram melebihi limit, cakram harus diganti. Batas Servis Honda Revo: 0,30 mm


 

Silinder Master (Silinder Utama)

Perhatian!

Hindari tertumpahnya minyak rem pada part yang dicat, atau terbuat dari plastik atau karet. Tutupilah part-part ini dengan lap bengkel yang bersih setiap kali menservis rem.

Pada saat melepaskan baut oli, tutupilah ujung slang untuk mencegah terjadinya pengotoran.

 

Pelepasan silinder utama (slinder master)

 

 

Gambar 74. Mengeluarkan Minyak Rem dari Silinder Utama

1.  Keluarkan minyak rem dari sistem rem hidraulik.

2.  Lepaskan slang rem dari silinder master dengan melepaskan baut oli dan cincin-cincin washer perapat.

3.  Lepaskan kaca spion. Lepaskan konektor saklar lampu rem depan.

4.  Lepaskan baut-baut pemasangan pemegang silinder utama, pemegang dan silinder utama.

 

 

Gambar 75. Melepas Sekrup & Mur Engsel Baut

1.  Lepaskan sekrup dan saklar lampu rem depan.

2.  Lepaskan mur engsel, baut dan handel rem.

3.  Lepaskan tutup karet piston dari piston dan silinder utama.


 

 

Gambar 76. Melepas Snap Ring

1.  Lepaskan klip pengunci (snap ring).

2.  Lepaskan piston dan pegas.

3.  Bersihkan bagian dalam silinder utama kotak minyak rem dan piston dengan minyak rem.

Tabel 3. Pelepasan silinder utama

 

 

Pemeriksaan silinder utama (silinder master)

 

 

 

Gambar 77. Pemeriksaan Silinder Master

1. Periksa mangkuk piston terhadap adanya keausan, pemburukan kondisi atau kerusakan.

 Periksa silinder utama dan piston terhadap adanya goresan atau kerusakan.

 Ukur diameter dalam silinder utama.

 Ukur diameter luar piston.


 

Perakitan silinder utama (silinder master)

 

 

 

Gambar 78. Pemasangan Pegas & Piston pada Silinder Utama

1. Lapisi piston dan mangkuk- mangkuk

piston dengan minyak rem DOT 4. Pasang pegas piston pada ujung piston.

 Pasang pegas piston dan piston pada silinder utama.

PERHATIAN!

Ketika memasang mangkuk- mangkuk piston, jaga agar bibir- bibirnya tidak berputar terbalik

Gambar 79. Pemasangan Klip Pengunci

Pasang klip pengunci pada alur di dalam silinder utama.

Gambar 80. Pemasangan Tutup Karet Piston

1. Pasang tutup karet piston ke dalam silinder utama dan alur di dalam piston.

 Lumasi daerah kontak antara handel rem dan piston dengan gemuk silicon.


 

Gambar 81. Melumasi Engsel Handel Rem dan Pemasangan

1. Lumasi engsel handel rem dengan gemuk silikon. Pasang handel rem dan baut engsel, dan kencangkan baut.

 Pasang dan kencangkan mur engsel handel rem.

 Pasang saklar lampu rem depan dan kencangkan sekrup.

Gambar 82. Perhatikan Tanda “UP” Saat Pemasangan

1. Pasang silinder utama dan pemegang dengan tanda “UP” menghadap ke atas. Tepatkan ujung silinder utama dengan tanda titik pada stang kemudi, dan kencangkan baut atas dulu, kemudian baut bawah.

 Pasang konektor saklar lampu rem depan.

 Pasang kaca spion.

Gambar 83. Menghubungkan Slang Rem ke Silinder Utama

1. Hubungkan slang rem ke silinder utama dengan baut oli dan cincin-cincin washer perapat

yang baru, dan kencangkan baut oli.

 Isi silinder utama dengan minyak rem sampai permukaan yang ditentukan dan buanglah udara palsu di dalam sistem rem.


 

Caliper Rem

Perhatian !

Jaga agar minyak rem tidak tertumpah pada parts yang dicat, terbuat dari plastik atau karet. Tutupilah part tersebut dengan lap bengkel yang bersih ketika sistem rem diservis.

Pembongkaran caliper rem

 

 

 

Gambar 84. Melepas Bracket Kaliper

a)    Keluarkan minyak rem dari sistem hidraulik.

b)    Lepaskan slang rem dari caliper dengan melepaskan baut oli dan cincin-cincin washer perapat.

c)    Lepaskan kanvas rem

d) Lepaskan       bracket      caliper     dari badan caliper

e)    Lepaskan pegas kanvas dan tutup pelindung engsel caliper dari badan caliper.

Gambar 85. Melepas Piston dari Caliper

Letakkan sebuah lap bengkel di atas piston. Posisikan badan caliper sehingga piston menghadap ke bawah dan semprotkan udara dalam tembakan-tembakan singkat ke dalam lubang pemasukan minyak rem pada caliper untuk membantu mengeluarkan piston.

AWAS!

Jangan gunakan tekanan udara yang tinggi dan jangan meletakkan ujung piston udara (air gun) terlalu dekat dengan lubang, karena piston akan terdorong keluar dengan gaya besar sehingga dapat menimbulkan kecelakaan.


 

Gambar 86. Cara Pengambilan Sil Debu dan Sil Piston

Tekan sil debu dan sil piston ke dalam dan angkat keluar.

PERHATIAN !

Hati-hati jangan sampai merusak permukaan pergerakan piston.

Bersihkan alur sil, silinder caliper dan piston dengan minyak rem bersih

Tabel 4Pembongkaran caliper rem

Pemeriksaan caliper rem

 

Gambar 87. Pemeriksaan Caliper & Piston

Periksa silinder caliper dan piston terhadap adanya gerusan atau kerusakan lain.

Gambar 88. Pengukuran dengan Micrometer

Ukur diameter dalam silinder caliper; BATAS SERVIS : lihat buku manual Ukur diameter luar piston caliper; BATAS SERVIS : lihat buku manual


 

Text Box: Catatan :
Pastikan semua komponen dibersihkan sebelum dirakit kembali
Ganti dust seals dan piston seals dengan yang baru apabila keduanya dilepas
Lapisi dust seals dan piston seals serta piston caliper dengan minyak rem baru sebelum dipasang

 

Perakitan caliper cem

 

Gambar 89. Pelumasan Komponen Sebelum Dipasang

Lapisi sil piston dan sil debu baru dengan minyak rem bersih dan pasang pada alur-alur sil di caliper. Lumasi piston caliper dengan minyak rem bersih dan pasang piston ke dalam silinder caliper dengan ujung terbuka piston menghadap ke sisi kanvas rem.

Gambar 90. Pemasangan Pegas Kanvas Rem pada Badan Caliper

Lumasi bagian dalam tutup pelindung engsel caliper dengan gemuk silikon dan pasang tutup pada badan caliper.

Pasang pegas kanvas rem pada badan caliper seperti tampak pada gambar.


 

Gambar 91. Pemasanga Bracket Caliper pada Caliper

Lapisi pin caliper dengan gemuk silikon dan pasang bracket caliper pada caliper.

Pasang kanvas rem dan caliper.

Gambar 92. Pemasangan Slang Rem ke Caliper

Hubungkan slang rem ke caliper dengan baut oli dan cincin-cincin washer perapat yang baru dan kencangkan baut oli.

TORSI : 3,5 kg.m

Isi silinder utama dengan minyak rem dan buanglah udara palsu yang ada di dalam sistem pengereman.

 

Rem Belakang Pelepasan rem belakang Lepaskan roda belakang.

Lepaskan panel rem dari roda belakang.

 

Pemeriksaan rem belakang

Gambar 93. Pengukuran Diameter Dalam Tromol Rem

Ukur diameter dalam tromol rem belakang.

BATAS SERVIS : 111,0 mm

Data kendaraan Kawasaki Ninja:

Standard : 130,0 130,16 mm Batas servis : 130,75 mm


 

Gambar 94. Pengukuran Ketebalan Kanvas Rem

Ukur ketebalan kanvas rem. BATAS SERVIS : 2,0 mm

Data kendaraan Kawasaki Ninja:

Standard : 4,00 mm Batas servis : 2,00 mm Yamaha Scorpio: 1,0 mm

Gambar 95. Pemeriksaan Tanda Pemasangan pada Wear Indicator Plate & Brake Arm

Gambar 96. Pemeriksaan Jarak Main Bebas Rem Belakang

Pemeriksaan jarak main bebas tuas/pedal rem belakang (data secara umum 2 – 30 mm)

Data Yamaha Scorpio: 20 30 mm

Pembongkaran rem belakang


 

Gambar 97. Melepas Sepatu Rem & Pegas Pegas

Lepaskan sepatu sepatu rem dan pegas-pegas.

Gambar 98. Melepas Mur, Baut & Lengan Rem

Lepaskan mur, baut dan lengan rem.

Lepaskan pelat indikator keausan, sil

debu dan bubungan rem.

4). Perakitan rem belakang

 

Gambar 99. Komponen Rem Belakang


 

Gambar 100. Pemasangan Bubungan Rem pada Panel Rem

Lumasi gemuk pada pin jangkar dan bubungan rem.

Pasang bubungan rem pada panel rem.

Gambar 101. Perhatikan Tanda Pemasangan pada Plat Indikator

Lumasi oli pada sil dan pasangkan pada panel rem. Pasang pelat indikator keausan pada bubungan rem dengan menepatkan gerigi yang lebih lebar dengan potongan pada bubungan rem.

Gambar 102. Perhatikan Tanda Titik pada Lengan Rem

Pasang lengan rem dengan menepatkan tanda tanda titik antara lengan dan bubungan rem. Pasang baut penjepit lengan rem dan kencangkan mur dengan torsi yang ditentukan.


 

 

Gambar 103. Pemasangan Sepatu Rem & Pegas Rem

Pasang sepatu-sepatu rem dan pegas-pegas.

Pasang panel rem pada hub roda sebelah kanan.

Pasang roda belakang.

 

 
S

i s t e m

 

P

e n

gereman ABS (Anti Lock Braking System) pada Sepeda Motor Pendahuluan

                                      


Gambar 105. Sensor Rem ABS Roda Depan


 

          Rem merupakan salah satu bagian utama dari setiap kendaraan karena memiliki fungsi penting dalam pengoperasian kendaraan. Pada umumnya kendaraan memiliki tenaga yang cukup untuk bergerak pada berbagai kondisi atau keadaan, di mana tenaga tersebut diperoleh dari motor melalui pembakaran bahan bakar dalam silinder. Kendaraan berjalan pada jalan yang tidak selalu rata, kadang menanjak atau menurun. Pada jalan yang tidak selalu lurus terkadang kendaraan berbelok saat berada pada tikungan dan berhenti          sacara        mendadak.                   

          Untuk mengatasi nya,                     maka     setiap kendaraan harus dilengkapi dengan sistem pengereman yang lebih aman.Pada saat pengemudi menginginkan kendaraan berhenti secara mendadak serta ingin memperlambat laju kendaraan, maka rem sangat dibutuhkan untuk mengontrol kecepatan kendaraan. Pada saat kendaraan menurun, laju kendaraan akan bertambah cepat, maka dari itu peran rem sangat dibutuhkan untuk memperlambat laju kecepatan kendaraan, agar pengemudi dapat mengontrol kendaraan dengan aman. Pada umumnya fungsi rem untuk memperlambat dan menghentikan laju kendaraan tanpa memperhitungkan akibat saat pengemudi menginjak pedal rem secara mendadak yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Pada saat bersamaan roda kendaraan tiba-tiba akan mengunci. Misalnya di jalan yang bersalju dan licin dibutuhkan pengereman yang optimal, karena pada kondisi jalan seperti ini kestabilan arah kendaraan mudah hilang. Pengereman dapat dikendalikan dalam keadaan stabil, bila adanya hubungan sebagai berikut : antara tahanan didalam sistem rem lebih kecil dari tahanan antara jalan dan ban.

Tahanan sistem rem < tahanan antara ban dan jalan.Akan tetapi bila hubungan ini terbalik, maka ban-ban akan mengunci dan kendaraan mulai membuang (skidding). Tahanan sistem rem > tahanan antara ban dan jalan. Akibatnya, bila roda depan mengunci, tidak mungkin untuk mengarahkan kendaraan. Bila roda belakang mengunci, maka adanya perbedaan didalam koefisien gesekan (coefficient of friction) diantara sisi kiri dan kanan pada permukaan jalan akan menyebabkan terjadinya ngepot (“tail spin”) pada bagian belakang kendaraan.


 

Oleh karena itu, kendaraan perlu dilengkapi sistem rem ABS agar lebih aman. ABS merupakan sistem pengereman yang didesain untuk menghindari terjadinya selip karena roda terkunci pada saat pengereman yang mana hal ini akan dapat menimbulkan bahaya karena roda yang selip akan menyebabkan kendaraan tidak dapat dikendalikan. Saat ini teknologi keselamatan piranti pengereman Anti Lock Bracking System (ABS) tidak hanya melulu untuk mobil. Motor pun sudah mulai menerapkannya, meskipun para pembalap tampaknya akan sedikit pesimis dengan adanya teknologi ABS di motor mereka, karena kesulitan memahami penggunaannya di roda dua. Namun, hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga asuransi dan keselamatan jalan raya Amerika, Insurance Institute for Highway Safety, mengungkapkan, motor dengan rem ABS 37 persen lebih rendah untuk terlibat dalam kecelakaan fatal, dibandingkan motor tanpa rem ABS.

Jadi, bagaimana ABS membantu pengendara motor ? Tidak seperti mobil yang memiliki kontrol terpisah pada roda depan dan belakang, rem motor bekerja bersamaan depan dan belakang. ABS berfungsi untuk mengurangi tekanan rem ketika mendeteksi gejala sliding, dan akan meningkatkan pengereman setelah traksi ban dipulihkan. Sampai detik ini pun banyak di antara pengemudi yang memahami rem sebagai penghenti laju kendaraan. Padahal, fungsi rem hanyalah mengurangi putaran roda. Mengapa motor yang berlari kencang masih meluncur ketika rem sudah diinjak sedemikian dalamnya. Apalagi bila dilakukan dalam kondisi lintasan basah atau berpasir. Penyebab masih meluncurnya motor setelah di rem bukan karena roda yang masih berputar, tapi diakibatkan oleh gaya sentrifugal. Semakin kencang pergerakan motor maka semakin besar potensi gaya sentrifugal yang diterimanya ketika dilakukan penghentian mendadak. Pada motor tanpa fitur ABS gaya sentrifugal yang besar bahkan mampu menyeret ban yang terkunci oleh rem. Efek dari gaya sentrifugal memang hanya melempar motor. Namun bisa dibayangkan, bagaimana bila ketika gaya sentrifugal diterima motor posisi roda depan sedang dalam keadaan miring ?,

Maka motor akan meluncur tak terkendali, bahkan paling fatal mengakibatkan motor terbalik dan terjatuh.

Untuk mengurangi gaya sentrifugal itulah maka tercipta rem ABS.

 

Kelebihan ABS

Anti-lock Brake Systems dirancang untuk mencegah terjadinya penguncian roda saat pengeman mendadak di segala medan jalan. Kondisi pengereman dengan menggunakan rem ABS memiliki berbagai keuntungan seperti : penguasaan kontrol kendaraan yang lebih baik, jarak pengereman yang lebih pendek, kendaraan lebih stabil.

Sepeda motor sangat perlu rem ABS!

Gambar 106. Kendaraan dengan ABS & Tanpa ABS saat Pengereman Mendadak atau Jalan Licin

 

Prinsip kerja sistem ABS

Sistem ABS sendiri terdiri dari tiga bagian :

1.    Sensor kecepatan roda

Konstruksi

Sensor kecepatan roda depan dan belakang terdiri dari suatu magnet permanen (perntanent magnet), coil dan yoke. Rotor bergerigi (rotor sensor) dipasang pada roda depan dan roda belakang dan berputar dalam bentuk satu unit dengan disc brake.

Cara kerja

Pada keliling di setiap rotor terdapat gerigi-gerigi, bila rotor berputar, maka akan menghasilkan suatu tegangan AC dengan frekwensi yang


 

seimbang dengan kecepatan putaran rotor. Tegangan AC ini digunakan untuk menginformasikan kecepatan roda ke ECU.

Gambar 107. Frekwensi Tegangan AC pada saat Rotor Berputar

 

2.     Pengendali Katup Tekanan ( Modulator Unit)

Pengendali katup tekanan memberikan atau menghentikan bekerjanya tekanan minyak rem dari master silinder ke tiap silinder piringan rem (disc brake cylinder), sesuai dengan sinyal-sinyal yang diterima dari ECU, dan dengan demikian akan mengontrol kecepatan roda.

 

 

Cara kerja (katup 3 posisi)

ABS tidak bekerja selama pengereman biasa, dan ECU ABS tidak mengalirkan arus listrik ke solenoid coil. Oleh karena itu, katup 3-posisi (3-pisition valve) ditekan ke bawah oleh sebuah pegas pengembali, dan port "A" tetap terbuka sedangkan port "B" tetap tertutup.

Bila pedal rem ditekan,tekanan minyak pada master silinder meningkat dan minyak rern nrengalir dari port "A" ke port "C" di dalam katup solenoid 3-posisi dan dikirim ke disc brake cylinder. Minyak rem dicegah mengalir ke dalam pompa oleh katup pengontrol No.1 (check valve No.1) yang terletak pada sirkuit pompa.


 

Bila pedal rem dibebaskan, minyak rem kembali dari sllinder piringan rem ke master silinder rem melalui port "C" ke port "A" dan katup pengontrol No.3 di dalam katup solenoid 3-posisi.

 

Nama alat

Cara kerja

Katup solenoid 3 posisi

Port A terbuka

 

Port B tertutup

Motor pompa

Off

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 108. Cara Kerja saat Pedal Rem di Tekan (panah hitam) & saat Pedal Rem

dibebaskan (panah putih)


 

 

Pada waktu pengereman darurat (ABS digerakkan)

Bila salah satu dari kedua roda kira-kira akan mengunci pada waktu pengereman secara tiba-tiba, actuator ABS mengontrol tekanan minyak rem yang bekerja pada roda tersebut sesuai dengan sinyal yang dikirimkan oleh ECU. Roda ini akan tercegah dari penguncian .

1.     Mode "Pengurangan Tekanan"

Bila suatu roda hampir mengunci, ECU akan mengirim arus listrik ( ≈ 5A) ke solenoid coil yang membangkitkan tenaga magnet yang kuat. Katup tiga posisi bergerak ke atas dan port “A” menutup serta port "B" membuka. Akibatnya, minyak rem dari silinder disc brake akan mengalir melalui port “C” ke port “B" dalam katup solenoid tiga posisi dan masuk kedalam reservoir.

Pada waktu yang bersamaan motor pompa dihidupkan oleh sinyal dari ECU, dan minyak rem dikirim kembali dari reservoir ke master silinder. Sebaliknya, minyak rem yang keluar dari master silinder, dicegah masuk ke dalam katup solenoid tiga posisi oleh port "A" yang tertutup dan oleh check valve No.1 dan No.3. Hasilnya, tekanan hidraulis di dalam silinder disc brake akan berkurang dan mencegah penguncian atas roda. Tingkat pengurangan tekanan hidraulis diatur oleh pengurangan dari mode-mode "Pengurangan Tekanan" dan "Penahanan" (holding) mode.

 

Nama alat

Cara kerja

Katup solenoid 3 posisi

Port A tertutup

 

Port B terbuka

Motor pompa

On


 

Gambar 109. Cara Kerja Mode "Pengurangan Tekanan"

 

2.     Mode “Penahanan” (Holding)

Ketika tekanan didalam silinder disc brake berkurang atau bertambah, dan sensor kecepatan mengirim sinyal yang menunjukan bahwa kecepatan sudah mencapai tingkatan yang dituju (target level) ECU memberi arus ( ≈ 2A) ke solenoid coil untuk menahan agar tekanan didalam silinder disc brake berada pada tingkatan itu.

Ketika arus yang diberikan ke solenoid dikurangi dari 5A (dalam mode pengurangan tekanan) tenaga magnet yang dibangkitkan dalam solenoid coil juga berkurang,. Maka selanjutnya katup solenoid 3 posisi bergerak ke bawah ke posisi tengah oleh tenaga pegas pembalik, sehingga port “B” akan tertutup.


 

Nama alat

Cara kerja

Katup solenoid tiga posisi

Port “A” tertutup

Port “B” tertutup

Motor pompa

On


 

Gambar 110. Cara Kerja Mode "Penahanan (Holding)"

 

Mode "Penambahan Tekanan”

Ketika tekanan didalam silinder disc brake perlu ditambah untuk memberikan tenaga rem yang lebih kuat, ECU menghentikan pengiriman arus ke solenoid coil. Hal ini akan memebuka port “A” dan menutup port “B” dengan demikian minyak didalam master silinder dapat mengalir dari port “C” dalam katup solenoid 3-posisi ke silinder disc brake. Penambahan tekanan hidraulis


 


dikontrol    oleh    pengulangan      mode-mode      penambahan                  tekanan                        dan penahanan tekanan.

 

Nama alat

Cara kerja

Katup solenoid Tiga posisi

Port “A” terbuka

Port “B” tertutup

Motor pompa

On

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 111. Cara Kerja Mode "Penambahan Tekanan"

 

3.     Electronic Control Unit (ECU)

Bagian terpenting yang merupakan otak dari sistem ini adalah ECU.

ABS    tidak    bekerja     selama pengereman biasa dan ECU ABS tidak mengalirkan arus listrik ke solenoid coil.


 

ECU dengan parameter kecepatan yang diperolehnya dari sensor kecepatan akan mengetahui bilamana akan terjadi sebuah kejadian deselerasi yang ekstrim (kecepatan turun secara ekstrim dan tiba-tiba) yang dapat menyebabkan rem cakram nge-lock .

Ketika pedal rem diinjak, kecepatan roda akan berkurang selanjutnya roda cenderung terkunci. Pada titik ini ABS control unit akan menghitung deceleration kecepatan roda yang telah ditentukan pada sistem pengereman. Jika sistem mendeteksi bahwa kendaraan dalam kondisi yang tidak aman, ABS control unit segera memerintahkan untuk mengurangi tekanan minyak rem pada kaliper. Ketika tekanan hidrolik turun, kecepatan roda akan naik. Setelah kecepatan roda bertambah, control unit akan memerintahkan untuk menambah tekanan minyak rem. Oleh karena itu, roda akan segera terkunci kembali. Dengan demikian, kecepatan dan pengereman mobil akan terkontrol kembali. Sewaktu pedal rem diinjak, sistem ABS akan memberikan perlambatan kecepatan kendaraan secara berangsur-angsur sampai kendaraan benar-benar berhenti. Keadaan ini terjadi karena adanya penambahan dan pengurangan tekanan minyak rem secara periodik sampai mobil benar- benar berhenti dalam interval waktu yang sangat singkat.

Pengontrol kecepatan roda

ECU secara terus menerus menerima sinyal-sinyal dari sensor kecepatan dan memperkirakan kecepatan kendaraan dengan menghitung kecepatan dan pengurangan kecepatan pada setiap roda.

Bila pedal rem ditekan, tekanan hidraulis didalam setiap silinder disc brake mulai bertambah dan kecepatan roda-roda akan berkurang. Bila salah satu dari roda-roda kemungkinan akan mengunci, maka ECU mengurangi tekanan hidraulis didalam silinder disc brake pada roda itu.


 

 

 

Gambar 112. Sinyal-Sinyal dari Sensor Kecepatan yang Diterima oleh ECU

 

Seksi A

ECU menyetel katup 3-posisi ke mode pengurangan tekanan sesuai dengan tingkat pengurangan kecepatan roda-roda, dengan demikian akan mengurangi tekanan hidraulis didalam silinder disc brake.

Setelah tekanan turun, ECU memindahkan katup 3-posisi ke mode penahanan (holding mode) untuk memonitor perubahan kecepatan roda.

Bila ECU menentukan bahwa tekanan hidraulis perlu dikurangi lagi, maka ia akan menguranginya lagi.

Seksi B

Bila tekanan hidraulis di dalam silinder disc brake berkurang (seksi A), maka tekanan hidraulis yang digunakan terhadap roda-roda akan menurun. Hal ini


 

memungkinkan roda yang sudah hampir mengunci untuk mempercepat. Akan tetapi, bila tekanan hidraulis tetap rendah, kekuatan rem terhadap roda akan menjadi kurang.

Untuk mencegah hal ini, ECU menyetel katup solenoid 3-posisi ke mode penambahan tekanan dan kemungkinan lain ke mode penahanan (holding mode), bila roda yang sudah hampir mengunci menambah kecepatan.

Seksi C

Karena tekanan hidraulis di dalam silinder disc brake ditambah perlahan- lahan oleh ECU (seksi B), maka roda cenderung akan mengunci lagi.

Karena itu, ECU memindahkan lagi katup solenoid 3-posisi ke mode pengurangan tekanan untuk mengurangi tekanan hidraulis didalam silinder disc brake.

Seksi D

Karena tekanan hidraulis didalam silinder disc brake dikurangi lagi (seksi C), maka ECU mulai menaikan tekanan lagi seperti dalam Seksi B.

Prinsip kerja:

Bila kendaraan dijalankan pada kecepatan konstan, maka kecepatan kendaraan dan roda-roda adalah sama (dengan kata lain; ban-ban tidak membuang). Akan tetapi, bila pengemudi menginjak pedal rem untuk memperlambat kendaraan, maka kecepatan roda-roda akan berangsur- angsur berkurang dan tidak lagi sesuai dengan kecepatan bodi kendaraan yang melaju dalam kelambanan (inersia) sendiri (mungkin akan terjadi sedikit slip antara ban-ban dan permukaan jalan).

 

Perbedaan ratio antara kecepatan bodi kendaraan dan kecepatan roda- roda, disebut "Slip ratio". Slip ratio dapat ditentukan dengan perhitungan sebagai berikut :

 

Slip ratio = 𝑘𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑏𝑜𝑑𝑖 𝑘𝑒𝑛𝑑𝑎𝑟𝑎𝑎𝑛𝑘𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑟𝑜𝑑𝑎 x 100 %

𝑘𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑏𝑜𝑑𝑖 𝑘𝑒𝑛𝑑𝑎𝑟𝑎𝑎𝑛


 

Catatan:

Slip ratio 0% menunjukkan suatu keadaan dimana roda roda berputar bebas tanpa tahanan. Slip ratio 100 % menunjukkan suatu keadaan dimana roda roda mengunci total dan ban akan membuang (skidding) pada permukaan jalan.

 

Bila perbedaan antara kecepatan roda dan kecepatan kendaraan terlampau besar, rnaka slip akan terjadi antara ban-ban dan permukaan jalan. Hal ini akan menimbulkan gesekan dan akhirnya dapat berlaku sebagai tenaga pengerem serta memperlambat kecepatan kendaraan. Hubungan antara daya pengereman dan slip ratio dapat lebih jelas dipahami dari grafik dibawah ini.

 

Bila slip ratio melampaui 30%, maka tenaga pengereman akan berkurang secara bertahap. Oleh karena itu, untuk menjaga agar tenaga pengereman pada tingkat maksimal, maka slip ratio harus diusahakan agar selalu berada dalam tingkat 10 sampai 30%. ABS direncanakan untuk menggunakan slip ratio ini dari memaksimalkan kemampuan pengereman tanpa memperhatikan keadaan jalan.


Gambar 113. Grafik Hubungan antara Daya Pengeremen dan Slip Rat


 

Penting :

Diatas jalan-jalan yang kasar, kerikil atau jalan jalan yang tertutup salju, pengoperasian ABS dapat menghasilkan jarak penghentian yang lebih jauh dibandingkan dengan kendaraan yang tidak menggunakan ABS.

Dasar pengoperasian sistem ABS standar yang ada adalah sebagai berikut:

Dalam situasi pengereman mendadak, sensor kecepatan roda akan mengirim sinyal ke ECU saat terjadi perubahan kecepatan roda secara mendadak.

ECU akan memberikan signal pada Modulator Unit (unit-unit pengontrol hidrolis) untuk mengurangi atau menambah tekanan minyak rem agar rem bekerja sesuai dengan keadaan yang diperlukan. Pada kondisi tersebut pad bergetar 10-20 kali perdetik sehingga slip ratio pengereman yang optimal (10% - 30%) dan mencegah penguncian roda.

Contoh letak ABS pada Honda CBR 250R

Letak ABS Pada Motor Honda CBR 250R

Gambar 114. Letak ABS pada Honda CBR 250R.


 

Letak ABS dari dekat pada Motor Honda CBR 250R

 

Letak ABS Dari Dekat

Gambar 115. Letak ABS dari dekat pada Motor Honda CBR 250R

 

Cara Kerja Anti-lock Braking Sistem (Honda CBR 250 R)

Ketika sensor ABS tersebut mendeteksi ada roda yang mengunci, secara otomatis sensor tersebut akan mengirimkan sinyal ke modulator yang kemudian berfungsi untuk memerintahkan piston rem untuk mengendurkan tekanan fluida atau minyak rem dari kaliper dalam kondisi tertentu. Sebaliknya, tekanan akan kembali naik dan normal ketika penguncian berkurang. Proses pengurangan, penahanan, dan peningkatan tekanan fluida ini berlangsung sangat cepat, sekitar 15-50 kali per detik, sehingga roda tidak akan terkunci saat terjadi pengereman mendadak.

 

Selain itu, pada Honda CBR 250R terdapat ECU yang terletak bersamaan dengan ABS Modulator yang di dalamnya terdapat pompa, reservoir, dan katup solenoid in and out. Kedua katup tersebut yang akan membuka dan menutup selama proses pengaturan tekanan fluida.


 

 

Berikut ini adalah gambar lampu indikator petunjuk ABS yang terdapat pada speedometer

Lampu Indikator Petunjuk ABS

Gambar 116. Lampu Indikator Petunjuk ABS

 

 

Pada Honda CBR 250R, ketika mulai menyalakan motor, lampu indikator ABS akan menyala diam. Lalu, ketika motor mencapai kecepatan sekitar 10 km / jam atau lebih, lampu indikator ABS akan mati. Nah, pada saat inilah kita dapat mendeteksi apakah sistem ABS motor berfungsi atau tidak.

Apabila setelah mencapai kecepatan dan motor tersebut ternyata lampu ABS tersebut justru berkedip, itu menandakan bahwa ada masalah yang terjadi pada sistem pengereman pada motor tersebut. Cukup dengan membaca sekaligus menghitung jenis dan jumlah kedipan yang dihasilkan lampu indikator tersebut, kita dapat mengetahui sumber kerusakan pada motor tersebut. Kedipan panjang berarti angka puluhan, sedangkan kedipan pendek menandakan angka satuan. Sebagai contoh, satu kedipan panjang dan tiga kedipan pendek berjumlah 13. Angka tersebut merupakan tanda bahwa rangkaian speed sensor bagian belakang motor Anda tidak berfungsi dengan baik.

Contoh ABS Sepeda Motor Kawasaki

Umumnya kendaraan bermotor di Indonesia baru mengaplikasikan sistem rem cakram konvensional. Dengan menekan/menginjak tuas rem, maka fluida (minyak rem) akan mengalir melalui kabel rem untuk kemudian menekan piston pada kaliper sehingga „meghimpit‟ piringan cakram. Seberapa besar deselerasi pengereman sangat bergantung pada besarnya gaya yang dilakukan pada saat penekanan tuas rem. Pada sistem ABS ada


 

penambahan alat yang dinamakan Pressure Control Valve (PCV) atau katup pengendali penekanan. Jadi dari tuas rem, minyak rem akan mengalir melalui katup ini dulu baru sampai ke kaliper.

Gambar 117. Diagram Sistem ABS Kendaraan Kawasaki

 

 

Sistem ABS sendiri terdiri dari tiga bagian yaitu :

Sensor kecepatan,

Pengendali katup tekanan, dan

Unit pengendali elektronik/Electronic Control Unit (ECU).

Bagian terpenting yang merupakan otak dari sistem ini adalah ECU. ECU dengan parameter kecepatan yang diperolehnya dari sensor kecepatan akan mengetahui bilamana akan terjadi sebuah kejadian deselerasi yang ekstrim (kecepatan turun secara ekstrim dan tiba-tiba) yang dapat menyebabkan rem cakram nge-lock. Sebelum hal ini terjadi (nge-lock) ECU secara otomatis akan menutup katup tekanan pada PCV yang membuat minyak rem yang menuju kaliper akan terhambat dan tekanan piston kaliper berkurang sehingga gejala nge-lock dapat dihindari. Setelah ECU mendeteksi kecepatan telah berkurang dan aman dari gejala deselerasi ekstrim, perlahan-lahan katup kembali akan dibuka untuk dapat membuat tekanan kembali pada kaliper sehingga kendaraan dapat dihentikan.

D.      Aktifitas Pembelajaran

 

Setelah selesai pembelajaran, peserta pelatihan hendaknya mampu :

Menelaah sistem suspensi

Mendiagnosis kerusakan pada sistem suspensi


 

Memperbaiki kerusakan pada sistem suspensi Menelaah sistem rem konvensional dan rem ABS

Mendiagnosis kerusakan rem konvensional (rem mekanik dan hidrolik) Mendiagnosis kerusakan rem ABS

Memperbaiki kerusakan sistem rem konvensional (rem mekanik dan hidrolik) Memperbaiki kerusakan sistem rem ABS

Menelaah sistem kopling

Mendiagnosis kerusakan pada sistem kopling Memperbaiki kerusakan sistem kopling Menelaah sistem transmisi

Mendiagnosis kerusakan komponen sistem transmisi Memperbaiki kerusakan transmisi manual

 

Selain itu peserta pelatihan perlu mengidentifikasi peralatan keselamatan kerja yang layak dipergunakan pada saat pelatihan di bengkel agar kecelakaan kerja bisa dihindari.

 

 

Komentar